Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

7 Poin Pernyataan Haruna: Selain Kritik Shin Tae-yong, Juga Ungkap Omzet Judi Bola !

7 Poin Pernyataan Haruna

Anggota Exco PSSI, Haruna Soemitro, menjadi perbincangan hangat di media sosial pada Senin (17/1/2022) pagi WIB. Sebab, Haruna meluncurkan kritik yang cukup pedas kepada pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong.

Haruna menjadi narasumber dalam sebuah wawancara dengan media JPNN yang dimuat di kanal YouTube resmi mereka. Awalnya, Haruna berceritas tentang kiprahnya di sepak bola dari Magetan hingga Madura United.

Selanjutnya, eks ketua Asprov PSSI Jawa Timur itu juga bicara soal judi sepak bola, match fixing, hingga Shin Tae-yong.

Ada beberapa poin penting dalam sesi wawancara Haruna dengan JPNN itu. Di bawah ini rangkuman beberapa pernyataan penting Haruna yang dinukil dari Youtube JPNN.COM.

$ads={1}

Berikut 7 poin pernyataan Haruna Soemitro dalam podcast youtube JPNN 

1. Yang Penting Hasil, Bukan Peroses

Apa pun di sepak bola, tanpa prestasi itu nothing. Jadi, mau di PSSI mau di klub yang paling pertama orang lihat adalah prestasi. Proses tidak dilihat.

Meskipun proses bagus. Tadi kita diskusi dengan Shin Tae-yong. Mengapa proses di kita seperti ini. Kenapa kemarin kita sampai kalah 4-0 dari Thailand padahal kita tidak pernah kalah sebesar itu.

Di Sea Games yang baru saja kita sudah menang 2-0. Kenapa kemarin kita bisa kalah? Dia bilang Anda tidak tahu prosesnya. Ya memang begitu sepak bola. Orang tidak mau lihat proses, yang mau dilihat hasil.

2. Tentang Judi Sepak Bola

Saya malah justru melihat bisa jadi (bandar judi ada di sepak bola) karena dari segi apa pun Indonesia punya pasar luar biasa. Baik pasar gelap, pasar terang, pasar setengah gelap, pasarnya luar biasa.

Dari informasi-informasi yang saya dapat. Omzet perjudian di sepak bola ini luar biasa. Ratusan miliar dalam satu pertandingan. Dalam satu match saja sudah ratusan miliar.

Klub dalam satu tahun 40 miliar saja sudah setengah mati sudah setengah mati mencarinya.

3. Tentang Match Fixing

Saya justru berharap agar PSSI dalam hal ini jangan hanya terbawa arus kepada soal pemberantasan match fixing. Karena riil match fixing bukan sesuatu yang harus diberantas.

Tapi, sesuatu yang harus dilihat secara proporsional bawah apakah benar ada baru kemudian kita melangkah ke cara mengatasinya.

Match fixing apakah dilakukan oleh para football family? Menurut saya tidak. Hari ini football family menurut saya masih pada tingkatan punya harga diri, punya sportivitas, punya mentality yang menurut saya teman-teman saya di football family tidak terjangkau ke sana.

4. Kalau Hanya Runner-up, Tidak Perlu Shin Tae-yong

Shin Tae-yong punya target menjadi juara Piala AFF U-19 (maksudnya U-23) di Kamboja. Itu targetnya juara. Piala AFF 2022, yang kemarin kan Piala AFF 2020 yang dilaksanakan 2021, itu nanti targetnya juara.

Ada komitmen baru dengan coah Shin Tae-yong bahwa ke depan kita harus betul-betul punya target yang sama, road map yang sama, dan keinginan pelatih harus sama dengan pelatih.

Saya tadi sampaikan dalam rapat evaluasi kalau hanya runner-up, tidak perlu Shin Tae-yong. Karena kita sudah beberapa kali jadi runner-up.

$ads={2}

5. Shin Tae-yong Tersinggung

(Bagaimana respon Shin Tae-yong ketika mendengar Anda atau pengurus PSSI lainnya memberi kritik?) Tersinggung!

Shin Tae-yong tersinggung. Jadi seolah-olah kita ini merecoki dia. Saya bilang, bagaimana Anda bisa tersinggung dengan kritik. Saya ini adalah exco yang membawa aspirasi dari sekian banyak klub, sekian banyak stakeholder terhadap ekspektasi.

Tidak bisa Anda jawab dengan tersinggung bahwa beban Anda berat. Kalau orang bekerja ya bebannya berat. Dia bilang, beban saya sudah berat tangani U-19, U-23, senior. Sekarang kok malah dikritik terus bagaimana? Tidak diberi dukungan.

6. Shin Tae-yong Tidak Beri Manfaat Pada Klub

Saya ini banyak mendapat masukan dari pelatih Liga 1. Banyak menelpon saya, diskusi sama saya begini: coaching point apa yang kita dapat dari Shin Tae-yong selama melatih Tim Nasional?

Apakah dengan metode dan proses yang dilakukan Shin Tae-yong ini bisa diterapkan dan ditransformasi ke klub sehingga melahirkan liga yang kuat. Faktanya, katanya pelatih yang beri saran pada saya, belum ada.

Mayoritas klub Liga 1 melakukan proses dari kaki ke kaki. Proses build-up dari bawah. Tapi, proses latihan dan game plane Shin Tae-yong justru direct ball. Passing bergerak, direct ball. Wajar jika Shin Tae-yong menerima pemain yang tidak siap.

7. Tidak Setuju Pemain Naturalisasi

Saya termasuk rezim yang tidak setuju dengan naturalisasi. Saya memang berbeda dengan (Ketua PSSI). Saya selalu berdebat urusan naturalisasi.

Sekarang ambil contoh apa yang kita hasilkan dari naturalisasi sampai saat ini?

Kritik saya begini. Ketika kita mau menaturalisasi kita harus aple to aple dengan pemain lokal kita. Apakah pemain lokal kita tidak ada yang sebagus itu. Contoh, sorry ya, contoh Sandy Walsh umpamanya, pemain belakang posisi bek kanan atau apa, sekarang pertanyaannya bagus mana Sandy Walsh dengan Asnawi Mangkualam?

Kalau kemudian kedatangan dia menghilangkan kesempatan bagi anak bangsa kita, itu menjadi masalah besar kan begitu.


Sumber: YouTube JPNN.COM, Bola.net

X